Sikapku Ketika Diutus Tuhan - 1 Juli 2024

 

Tataibadah Harian

Senin, 1 Juli 2024

 

Sikapku Ketika Diutus Tuhan

 

 

Saat teduh

Tenangkan diri selama sekitar satu menit. Jika mau, putarlah sebuah nyanyian dari youtube atau semacamnya, atau bisa juga memainkan alat musik seperti gitar agar bisa mendapatkan suasana yang syahdu. Persiapkanlah hati menjumpai Tuhan.

 

Bacaan Alkitab I

Bacalah 1 Samuel 23.14-18 secara perlahan. Temukan bagian yang berharga yang bisa diingat setidaknya untuk sehari ini.

 

Nyanyian bersama

“KUUTUS KAU”

Pelengkap Kidung Jemaat 182 bait 1 sampai dengan 3

 

Kuutus ‘kau mengabdi tanpa pamrih,

berkarya t’rus dengan hati teguh,

meski dihina dan menanggung duka;

Kuutus ‘kau mengabdi bagi-Ku

 

Kuutus ‘kau membalut yang terluka,

menolong jiwa sarat berkeluh,

menanggung susah dan derita dunia,

Kuutus ‘kau berkurban bagi-Ku.

 

Kuutus ‘kau kepada yang tersisih,

yang hatinya diliputi sendu,

sebatang kara, tanpa handai taulan.

Kuutus ‘kau membagi kasih-Ku.

 

Pembacaan Mazmur

Bila memungkinkan, bacalah Mazmur 18.43-50 secara bergantian bersama anggota keluarga. Bila tidak, bacalah bagian ini, kemudian cobalah pilih satu kata yang menarik dan renungkan makna kata itu sebentar saja.

 

Renungan

Bukalah 2 Korintus 8.16-24

Berdoalah dahulu sebelum membacanya.

 

Kali ini kita diajak merenungkan tentang pelayanan. Ada banyak aspek yang bisa dibahas mengenai hal ini, mengingat pelayanan merupakan sebuah panggilan yang mencakup banyak hal. Dalam perikop ini kita diajak melihat cara seorang hamba Tuhan (atau orang yang percaya kepada Tuhan) melihat dan menyikapi permintaan pelayanan terhadapnya.

 

Titus diutus Allah untuk melayani orang-orang di Korintus untuk menerima sumbangan di sana. Sumbangan itu ditujukan bagi orang-orang lain dan tidak sepeserpun diterimanya sebagai upah atau penghargaan atas apa yang dilakukannya bersama dengan dua orang lainnya ini. Perjalanannya cukup panjang, dan tidak ada kemudahan yang diterimanya dalam prosesnya. Ia harus bersedia menempuh medan berat, dan ia harus menyampaikan bantuan atau sumbangan ini ke rumah-rumah orang yang dimaksud. Bukan cuma satu dua orang saja yang didatanginya, namun hati dan muka Titus tetap berseri-seri.

 

Sikap Titus kala diutus adalah ia mau mengabdikan sepenuh hatinya melakukan apa yang diminta Allah. Kerinduan hati itu dikaruniakan oleh Allah, namun juga muncul dan terlihat karena ada keinginan bekerja sama dengan Allah mewujudkan pekerjaan-Nya.

 

Dalam hatinya terkandung kasih Allah yang besar, yang ingin melihat umat-Nya mengalami kebaikan. Dengan kata lain, ia mengasihi orang-orang yang dilayaninya. Oleh karena itu dengan hasrat kuat dan kegembiraan yang besar, plus ketulusan, Titus menjalani penugasan terhadapnya itu. Sekalipun penugasan itu diberikan oleh Paulus, namun ia melihatnya sebagai sebuah kesempatan dan kepercayaan yang dianugerahkan Tuhan atasnya. Oleh karena itu, tanpa menunda, ia bersegera menjalankannya.

 

Kualitas pelayanan Titus juga bukan kaleng-kaleng. Kesediaannya melayani umat yang dipercayakan Tuhan itu dilakukan dengan semangat besar dan kesungguhan. Kesungguhan diartikan sebagai upaya menyiapkannya dengan seluruh kemampuan yang dimilikinya, serta memperlengkapi diri agar yang dilakukannya terhadap orang lain sungguh-sungguh mendatangkan apa yang mereka butuhkan.

 

Juga dalam melakukan semua itu, Titus tanpa pamrih. Ia samasekali tidak memikirkan imbal jasa atau bayaran yang akan diterimanya. Bahkan secuil ucapan terima kasih pun tidak dibayangkannya. Sungguh, sebuah pengabdian!

 

Bagaimana dengan kita? Jika kita diminta melakukan sesuatu atas nama pelayanan, apakah yang kita lakukan:

-        dipersiapkan sepenuh hati, artinya mengupayakan dengan segala daya dan kemampuan terbaik yang kita miliki, semua yang menunjang dan mendukung terselenggaranya pelayanan tersebut?

-        dilakukan bukan sekadar supaya tugasnya segera selesai, sehingga terbebaslah kita dari beban dan tanggung jawab yang diserahkan kepada kita, dan kita bisa menikmati kesenangan-kesenangan kita seperti biasanya?

-        dikerjakan dengan kegigihan, betapapun tidak menyenangkannya situasi kita saat penugasan itu diberikan?

-        dilakukan tanpa mengompensasikan sesuatu, misalnya waktu kita, atau yang lain, seakan waktu yang mestinya bisa kita nikmati – santai bersama keluarga, liburan di luar kota, atau lainnya – itu harus diganti oleh sesuatu yang setara dengannya?

 

Masih banyak pertanyaan yang bisa dijadikan dasar melayani kita. Namun sejauh ini, apakah yang kita renungkan sekarang bisa menolong kita bebenah dan memperbaiki diri? Jika ya, tunggu apa lagi? Mari bergegas!

 

Doa Syafaat

Mari doakan:

1.      agar setiap anggota masyarakat memiliki kerinduan mengalami hidup yang sehat, segar, dan dikelilingi ciptaan Tuhan yang asri

2.      agar mereka juga mau memelihara keindahan ciptaan Tuhan tersebut dengan memahami bahwa jika dia mau memulai merawat dan menjaga lingkungan, mulai dari memelihara kebersihan, membuang sampah di tempatnya, memerhatikan keseimbangan ekosistem, sampai pada upaya-upaya lanjutan yang dapat mencegah punahnya kehidupan dan berkembangnya makhluk hidup

 

 

Nyanyian bersama

“TUHAN MENGUTUS KITA KE DALAM DUNIA“

Pelengkap Kidung Jemaat 185

 

Tuhan mengutus kita ke dalam dunia

bawa pelita kepada yang gelap

meski dihina serta dilanda duka,

harus melayani dengan sepenuh.

 

            Dengan senang, dengan senang,

marilah kita melayani umat-Nya.

Dengan senang, dengan senang,

berarti kita memuliakan nama-Nya.

 

Tuhan mengutus kita ke dalam dunia

bagi yang sakit dan tubuhnya lemah.

Meski dihina serta dilanda duka,

harus melayani dengan sepenuh.

 

Tuhan mengutus kita ke dalam dunia

untuk yang miskin dan lapar berkeluh.

Meski dihina serta dilanda duka,

harus melayani dengan sepenuh.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TATA IBADAH HARIAN Jumat, 03 April 2026     Pujian P e mbukaan KJ. 34 : 1 + 2 – DI SALIB YESUS DI KALVARI   Di salib Yesus di ...